My photo
Penyuka berceloteh tentang spontanitas dan penggila kata meski tak suka bahasa. Sosok hitam pecinta keeksotisan alam, gila trip ala backpacking. Debur ombak dan dinginnya pegunungan yang jadi kepuasan dikala senggang.

1 jam tersisa

Bukan pertama kalinya ini terjadi, bahkan sudah tidak terhitung jari moment ini terlewati. Tapi rasa hati mata dan entah apapun itu selalu sama, persis malah. Dan lagi2 tatapan kesedihan itu slalu ikut meramaikan sekelumit detik. Sebagian bilang ini sesuatu yg wajar dan tidak berlebihan, namun bagi orang yg sama sekali tidak pernah mengalami ini sama halnya dengan apa yg ada diprasaan mereka ketika berangkat kerja dan sore sudah kembali ke rumah.

Ini sebuah perhiasan hidup, bermain dengan golak perasaan. Dipermainkan oleh suasana hati dan kondisi yg menjadwalkan semuanya terjadi, dan saya yakin ini tidak berjalan dengan sendirinya tetapi sengaja diberikan untuk eksotisme 'perjalanan'.

Bukan sedih krn jarak tapi moment 1 jam sblm pergi. Semua tampak seolah akan berakhir, tidak dan tentu tidak, ini hanya salah satu rutinitas bukan sebuah proses baru, krn ini selalu terjadi berulang dengan object dan ambience yg sama sekali tidak berbeda. Selalu 1jam tersisa ingin dipadatkan menjadi keseluruhan curahan perhatian. Mencoba bersikap tegar dan seolah ini terjadi begitu saja. Tapi tatapan mata tidak pernah menipu,kita (saya,ibu,& bapak) sama-sama sedih, akan sedikit lama untuk bertemu lagi. Puncaknya adalah ketika kecupan pipi,pelukan dan lambaian sudah menjadi "koreografi" , ahhh itu adalah moment yg paling saya benci.

Murni ini bukan 'sedih' tapi semacam perasaan syahdu yg mendalam, ini hanya masalah pilihan dan konsekuensi

No comments:

Post a Comment