My photo
Penyuka berceloteh tentang spontanitas dan penggila kata meski tak suka bahasa. Sosok hitam pecinta keeksotisan alam, gila trip ala backpacking. Debur ombak dan dinginnya pegunungan yang jadi kepuasan dikala senggang.

Singa Putih 15-17 Jan '11

Kegemaran akan bertemu dengan tempat-tempat baru dan menemukan teman baru merayu kaki saya untuk terus melangkah. Terutama trip ala backpacker yang murah meriah budget minim tapi puas menyalurkan hobby. Namun, sedikit berbeda untuk trip kali ini, bukan karena saya sangat ingin mengunjungi negara ini, tapi iming-iming tiket murah oleh sebuah maskapai negara tetangga yang tiketnya sudah sempat kami booking setahun sebelumnya cukup dengan RP 270ribu PP saja, membawa saya dan 8 rekan saya yang lain terbang ke negara singa putih ini. Mungkin karena sudah terbiasa dengan trip-trip sebelumnya apalagi tujuan kali ini di perkotaan yang segala sesuatunya ada jadi tidak khawatir kalaupun ada yang tertinggal yang penting passport sudah masuk atau mungkin karena sebenarnya saya tidak terlalu menggebu untuk tujuan trip kali ini, alhasil baru 1jam sebelum berangkat ke bandara saya mengemasi beberapa barang yang harus dibawa ke dalam keril saya. Seperti biasa traffic jakarta yang selalu unpredictable memaksa jantung saya untuk berolahraga, sebelum akhirnya bisa sampai di bandara tepat setengah jam sebelum waktu check in ditutup.
Justify FullSetengah jam sebelum saatnya pesawat yang kami tumpangi berangkat, kami boarding setelah lolos melewati petugas imigrasi yang bertugas menyetempel passport perdana saya. Tidak ada yang istimewa didalam pesawat, hanya rasa heran muncul ketika awak pesawat menginformasikan sebentar lagi pesawat akan landing. Bukan gedung tinggi ataupun kerapian kota yang sering saya dengar akan image negara ini tapi yang nampak dari jendela hanya pantai yang tidak begitu terurus, berceceran beberapa sampah serta perahu nelayan yang terparkir tidak teratur. Sejenak hilang harapan, sampai akhirnya setelah ditunggu beberapa menit pesawat masih saja melaju meski ketinggian terbang sudah mulai berkurang. Wait, ini kenapa masih melewati laut lagi? ouh ya ya keheranan saya terjawab, ternyata yang tadi saya lihat adalah pemukiman di sebrang SIN, iyakk betul "BATAM".

Tiba di bandara international Changi, yang saya perhatikan pertama kali adalah orang-orang yang memenuhi bandara yg terkenal raksasa dan besar ini. Senyum kecil saja yang muncul dari respon saya, mayoritas mereka bertampang indonesia dan berdialeg kental dengan indonesianya. Sepanjang jalan keluar dari tempat parkir pesawat ini, hal yg sama yg saya temui, Indonesia. Jadi berpikir, salah satu pendukung kemakmuran singapura memang dari negara kita, entah dari kunjungan liburan maupun niat berobat ke rumah sakit terkenal di negara itu.

Sebagai informasi kami tinggal di daerah Orchad tepatnya di lucky plaza berdekatan dengan RS terkenal . Dengan merogoh kocek per orang Rp 385 ribu untuk 2 hari, tempat singgah alakadarnya bisa kami nikmati. Jangan berharap ada fasilitas yang special dengan harga murah itu, kamar mandipun di luar kamar dan harus berebut dengan penghuni kamar lain. Tapi kembali lagi tujuan kita trip untuk menikmati kondisi kota bukan untuk ngendon di kamar.

Kami tiba di penginapan setengah jam sebelum jam dinding menunjukkan pukul 6 sore (waktu SIN 1 jam lebih dulu dari IND, pdhal secara posisi garis bujur dia harusnya lebih lambat dari IND or atleast sama dengan WIB). Sekedar meluruskan kaki, menaruh keril, dan mencuci muka tanpa mandi, cukup ganti baju dan semprot parfum saja dan selanjutnya siap berangkat explore kota ini. Malam ini kita akan menuju ke "china Town" tentunya dengan transportasi andalan SIN yaitu MRT. Dari Orchad menumpangi MRT ke arah marina bay turun di dhoby ghout menyambung ke jalur ungu ke arah haropurfront turun di chinatwon. Kondisi daerah ini tak ubahnya dengan pasar tumpah yang becek dan berjubel banyak orang, suara riuh tak terkendali harus kami lewati kira-kira setengah jam sampai akhirnya kami temui jalanan yg cukup besar yaitu maxwell road. Disitulah kami mencari makan malam, meski dengan susah payah mondar-mandir kesana kemari untuk bisa mendapatkan makanan "halal". Menyerah dengan kondisi akhirnya kami menemukan stand yang setelah ditanya tidak menjual babi maupun mengikutsertakan minyak babi ke masakannya. Puas berada di maxwell road perjalanan kita lanjutkan ke Clarke Quay, tentunya dengan menumpangi MRT dan itu berarti kami harus melewati kerumunan orang di china town tadi. Mengambil jalur ke arah berlawanan hanya satu terminal saja kami sudah sampai di tujuan, lebih tepatnya tengah malam. Clarke Quay berada di sebelah sungai dan disebrangnya terdapat bangunan bertuliskan "River Side Point". Clarke Quay ini penuh dengan kerumunan orang juga hanya bedanya disini jauh lebih rapih dan bersih. Mungkin segment yang di tuju berbeda jauh dari pit stop kami sebelumnya. Tidak ada kebecekan dan suara riuh megaphone yang menawarkan barang dagangannya, yang ada hanya musik ajeb-ajeb disetiap stand yang ada, riuh dengan music dan orang berbincang serta teriakan histeris dari pengunjung yang menaiki permainan pemicu adrenalin "Gmax" yang dipatok dengan harga 30 dolar singapura alias 210ribu rupiah untuk permainan selama 5 menit itu. Duduk-duduk, ngobrol dan sesekali melamun lah yang menjadi aktifitas kami selama dilokasi ini sampai waktu menunjukkan jam 2 dini hari kami putuskan untuk kembali ke orchad dengan taksi (clarke quay - orchad : 8.5 dollar SIN or Rp 59.500).

Hari kedua di SIN saya mempunyai rencana sendiri dari rekan-rekan saya yang lain, saya lebih memilih berkunjung ke "IKEA" daripada ke "Universal Studio". Dengan bermodal peta dan mulut yang saya punya, sendirian ke menuju kawasan tampines (dari Orchad naek MRT ke arah Marina Bay turun di City Hall dan berpindah ke jalur hijau menuju ke arah tanah pasir dan turun di Tampines). Dari terminal tampines masih perlu untuk naik suttle bus yang disediakan gratis oleh kawasan perbelanjaan Giant dan Ikea. Hampir sesiang saya berada di pusat furniture dan alat-alat rumah tangga ternama di SIN itu. Hanya mupeng dan ngiler dengan perabotan yang ditawarkan, andai saja saya punya alat pengubah barang-barang besar menjadi kapsul yang dengan gampang bisa saya kantongi saya akan puas melenggang dari tempat itu. Setelah beberapa jam berada di IKEA saya kembali ke sekitar terminal tampines dan mencari makanan untuk mengganjal perut termasuk hunting titipan sabun "irish spring" yang sampai akhir perjalanan gak ketemu juga dengan sabun ini. Sampai akhirnya rekan saya sms ngajak bergabung di kawasan esplanade, jadi saya memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk menaruh beberapa belanjaan, berers-beres sebentar dan menuju ke tempat janjian kami. Hanya perlu beberapa menit untuk sampai setelah menumpangi MRT arah marina bay dan berpindah ke jalur kuning di dhoby ghout menuju esplanade ternyata rekan-rekan saya belum muncul juga, jadi masih ada kesempatan untuk mengexplore daerah tersebut, berjalan tanpa arah tujuan mencari yang tidak jelas dan kembali ke posisi semula setelah beberapa menit berjalan untuk bertemu rekan-rekan saya yang lain.

Selang beberapa waktu kami bisa menemukan satu sama lain, dan menuju ke espalanade theater dimana bisa melihat marina bay pada waktu malam, kebetulan sedan ada konser musik disitu, membuat suasana makin asoy. Namun rasa lapar membawa langkah kita mencari makanan disekitaran situ dan sampailah di tempat makansutra gluttons bay, terdapat beberapa makanan halal ditempat tersebut dengan rasa sangat indonesia. Puas bercengkrama, rasa kantuk yang akhirnya memaksa kami mengalah d
engan hasrat cuci mata, kali ini kami memutuskan untuk mencoba naik bus saja untuk menuju orchad. Ternyata perlu jalan kaki dulu sebelum akhirnya sampai di penginapan. Dan hari kedua ini berakhir di kasur empuk dengan dengkuran kelelahan diantara kami.

Hari terakhir di SIN kami isi dengan explore esplanade, ke mer lion dan bercengkrama di lokasi tersebut serta melihat hotel yang konon katanya merupakan gedung pemerintahan kuno yang sekarang dipugar menjadi sebuah hotel yang amat mahal taifnya. Lelah berjalan sampai akhirnya kita putuskan untuk kembali ke orchad dan berkeliling, belanja dan sightseeing sampai sore. Tidak ada yg istimewa di hari terakhir ini, kami bersiap kembali ke jakarta dengan menumpangi pesawat dari maskapai yang sama yang mengantarkan keberangkatan kami di jam 10.11 malam waktu SIN.

















Biaya :
Akomodasi :
Ticket (promo AA,PP) : Rp 270.000
Penginapan (3hari) : Rp 385.000
Transport :
Damri (Lbk bulus-CKG) : Rp 20.000
Airport Tax (CKG) : Rp 150.000
MRT (Total ) : Sin $ 12 = Rp 84.000
Taxi (SIN) : total SIn $ 8,5 = @ Rp 2.1 = Rp 14.700
Taxi (CKG-Lbk Bulus) : Rp 125.000
Makan & Minum :
Makan : 7x @ SIN $ 3.5 = Rp 171.500
Minum : @botol : SIN $ 1.5 x 11 = Rp 115.500
Total Pengeluaran standart sebesar Rp 1.335.700
*) Rincian belum termasuk oleh-oleh dan cemilan

No comments:

Post a Comment